CARA PEMBIBITAN AYAM ASLI dan AYAM LOKAL YANG BAIK





   Dalam rangka melestarikan dan memanfaatkan sumber daya genetik ayam asli dan ayam lokal serta melindungi peternak untuk mendapatkan bibit ternak sesuai standar, yang dapat menjamin ketersediaan bibit ayam asli dan ayam lokal yang bermutu secara maksimal dan berkesinambungan. Perlu dilakukan pembibitan ayam asli dan ayam lokal yang baik.
Guna mendapatkan ayam yang baik, perlu tata cara pembibitan yang baik yaitu melalui pemilihan betina (indukan) dan pejantan , pemberian pakan, perkawinan, pola pemeliharaan, penanganan telur tetas dan penetasan serta penanganan DOC, dan pencatatan usaha.
   Pemilihan Betina (indukan) dan Pejantan
Untuk memperoleh betina dan jantan yang baik harus memenuhi persyaratan : 1) berasal dari tetua yang memilki produktivitas, fertilitas, dan daya tetas telur tinggi; 2) umur betina minimal 5 bulan dan jantan minimal 8 bulan; 3) sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) atau Persyaratan Teknis Minimal (PTM) bibit ayam.

Pemberian Pakan
   Bahan pakan diutamakan bersumber dari bahan pakan lokal, yang diberikan ke ternak ayam dalam bentuk halus ( mash) , butiran (crumble), atau pellet. Kandungan nutrisi sesuai Persyaratan Teknis Minimal (PTM) disesuaikan dengan umur ayam , seperti protein kasar umur ayam 0 ? 1 minggu (21%), umur 1-6 minggu (19%); umur 6 -14 minggu (17%), umur 14 ? 18 minggu (15%) dan pada induk bibit dan pejantan dewasa produktif (16%).

Perkawinan
   Perkawinan ayam dapat dengan cara kawin alam dan Inseminasi Buatan.
- Kawin alam, perbandingan antara jantan dan betina 1 : 5.
- Dengan IB, agar diperoleh fertilitas yang tinggi, setiap pengambilan semen dari satu ekor pejantan dapat digunakan 10 ekor betina dan IB dilakukan pada sore hari setelah jam 14.00 setelah sebagian besar ayam sudah bertelur.

Pola pemeliharaan
   Pola pemeliharaan ayam asli dan ayam lokal dilakukan dengan cara intensif dan semi intensif.
- Secara intensif, dilakukan dengan cara mengelola seluruh kebutuhan hidup dan kesehatan ayam di dalam kandang
- Semi intensif, pemeliharaan dilakukan dengan cara mengelola sebagian kebutuhan hidup dan kesehatan ayam di dalam kandang dan dalam umbaran secara terbatas.

Penanganan telur tetas, Penetasan dan Penanganan DOC.




   Penanganan telur tetas,
- Telur yang akan ditetaskan hendaknya berasal dari betina (induk) dengan produktivitas yang baik
- Sebelum ditetaskan, telur diseleksi sesuai persyaratan. Untuk telur tetas berdasarkan bobot, minimal 36 gram/ butir, bentuk telur oval, kondisi fisik kerabang halus serta tidak retak
- Telur disimpan pada suhu 22 -25 C paling lama 5 hari
Penetasan
- Penetasan dilakukan dengan mesin tetas yang kapasitasnya disesuaikan dengan kebutuhan
- Selama penetasan , suhu dan kelembaban diatur sesuai dengan kebutuhan

Penanganan DOC
   Dilakukan sebagai berikut :
1) DOC dikeluarkan dari mesin tetas setelah bulu kering;
2) DOC yang tidak memenuhi syarat kualitas di culling; 3) DOC yang akan didistribusikan harus sudah di vaksin Marek's untuk bibit dan vaksin Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis Disease( IBD) untuk pedaging;
4) pendistribusian bibit harus disertai dengan catatan program vaksinasi yang telah dan yang seharusnya dilakukan;
5) kemasan DOC harus seusai dengan SNI;
6) pemisahan antara jantan dan betina (sexing)

Pencatatan
   Dalam usaha pembibitan ayam asli dan ayam lokal perlu dilakukan pencatatan , yang meliputi :
1) Bobot DOC;
2) bobot badan dan umur pertama bertelur;
3) produksi telur;
4) produksi telur tetas;
5) fertilitas dan daya tetas;
6) produksi DOC yang layak didistribusi;
7) presentase kematian anak ayam sampai dewasa;
8) program vaksinasi;
9) jenis penyakit dan penanggulangannya;
10) pemasukan bibit (tanggal, asal, jumlah, jenis kelamin dan kondisi).

Sumber informasi : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2014. Pedoman Pembibitan Ayam Asli dan Ayam Lokal yang baik.
Sumber Gambar : www.pixbay.com

Comments